pentingkah kita berbeda?

gue kira malam ini adlah malam yang membosankan.
ternyata nggak, soalnya malam ini gue bisa diskusi tentang apa yg sebenernya gue pingin bahas.

bermula dari tweet temen gue yg nulis "kenapa selalu beda agama ?"
gue langsung tertarik buat diskusiin ini ama dia.
soalnya dia mempunyai masalah cinta beda agama, sama persis seperti masalah gue sebelum-sebelumnya.

nah, berdasarkan kasus di atas,, gue pingin bahas tentang film.
bercerita tentang "perbedaan" yang ada di Indonesia, mulai dari perbedaan pemikiran, perbedaan agama dalam cinta, perbedaan kebiasaan, dan perbedaan yang masih dianggap tabu di Indonesia.

i'm sure you understand the "difference" what I mean..

film ini berhasil menjawab pertanyaan gue selama ini.
mana ada film tentang "perbedaan" yg berani nampilin tokohnya berani ngambil jalan yg ekstrem, pindah agama demi cinta misalnya.

alasannya, pasti film yang mengangkat tema tentang "perbedaan" atau pindah agama pasti bakal diprotes oleh banyak pihak, khususnya pihak agama yang ditinggalkan.
makanya, film kayak gitu pasti nyari jalan aman, dengan menceritakan tokohnya yang berpacaran "berpisah" dan menjalani hidupnya dengan agama masing-masing.


tapi, di film ? (Tanda Tanya) karya om Hanung ini berhasil menjawab semua, 
film ini banyak bercerita tentang pluralisme/keberagaman/perbedaan di Indonesia yang menurut gue, persis yang terjadi di negeri ini yang masih jauh dari slogan negara kita.
masih inget dong slogan negara kita yang ada di kaki sang garuda?
yap, Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu jua.





cerita Tanda Tanya berlangsung di Semarang, mulai dari awal hingga akhir tahun 2010. Di kota tersebut,  ada tiga keluarga dari latar belakang yang berbeda. 

  • Ada keluarga Tan Kat Sun (Hengky Solaiman) dan anaknya, Hendra/Ping Hen (Rio Dewanto), yang memiliki restoran masakan Cina. 
  • Ada Soleh (Reza Rahardian) dan istrinya, Menuk (Revalina S. Temat), yang keduanya merupakan muslim yang taat. 
  • Ada juga Rika (Endhita), seorang janda satu anak, yang dulunya seorang muslim dan kini baru saja masuk katolik. Rika dekat dengan Surya (Agus Kuncoro), seorang pemuda muslim yang belum pernah menikah.
Sepanjang film, keluarga Tan Kat Sun dan Soleh terhubung secara tidak langsung. 
Menuk bekerja di restoran milik Tan Kat Sun, dan merasa tidak masalah walau setiap hari harus bertemu daging babi di tempat kerjanya. 
Soleh sendiri seorang pengangguran. sebagai kepala keluarga, Soleh malu karena hidupnya bergantung pada penghasilan istrinya. sebagai seorang laki-laki, Soleh punya sentimen tersendiri terhadap Hendra, yang dulunya pernah berpacaran dengan Menuk.
Hendra juga sentimen sama Soleh, soalnya Menuk lebih memilih menikah dengan Soleh, karena taat pada agamanya.
saat berpapasan di jalan, Soleh langsung mengatai Hendra “Cina”, yang dibalas dengan “teroris, asu!” keduanya langsung bertengkar hebat.
Rika mempunyai masalah yang rumit juga (walau masalahnya lebih ke diri sendiri, perang batin gitu lho), Rika memutuskan pindah agama agar dapat melupakan traumanya terhadap pernikahannya yg dahulu gara-gara sang suami ingin poligami.
sebagai seorang yang baru masuk Katolik, Rika bimbang menghadapi pilihan agamanya, terutama setelah pilihannya tersebut mempengaruhi hubungannya dengan anaknya yang masih ingin memeluk agama islam.

Surya kesusahan menghidupinya diri sendiri. Sepuluh tahun jadi aktor, Surya hanya mendapatkan peran kecil. 
sekalinya dapat peran utama, adalah sebagai Yesus di gerejanya Rika. 
Surya pun bimbang, mengingat dirinya adalah seorang Muslim yang taat.
sampai akhirnya, Surya berkonsultasi pada ustadz (David Chalid)
pak ustadz menyarankan agar Syrya teap mengambil peran itu, asalkan hati dan keyakinan Surya masih teguh kepada Allah. gue salut ama ustad itu..
oh iya, ada satu lagi peran Surya yang bikin gue terharu, yaitu peran jadi sinterklas untuk menghibur anak yang sakit leukimia.
sampai si anak memohon agar diambil nyawanya saja agar tidak menyusahkan orangtuanya.
sumpah, kalo gue yang jadi Surya, gue bakal ikut nangis bombay juga.

Tanda Tanya terlihat seperti sedang bercerita tentang perbedaan agama. 
alasan pertama, yang penonton lihat adalah penikaman seorang pendeta. 
kedua, penanda waktu dalam Tanda Tanya adalah hari raya agama, mulai dari Paskah, Idul Fitri hingga Natal, di mana karakter-karakter yang masing-masing latar belakangnya berbeda tersebut punya peranannya sendiri. 
ketiga, kamera kerapkali memfokuskan simbol-simbol agama, seperti salib dan kitab suci,

namun, semua rujukan agama tersebut hanyalah pelengkap,
agama di film ini hanyalah satu dari sekian faktor yang membedakan mereka.
masih ada etnisitas dan pandangan hidup masing-masing karakter. 
selain itu, bisa dilihat dari bahasa yang digunakan masing-masing karakter. 
ada karakter yang menggunakan bahasa Indonesia, ada yang bahasa Indonesia berlogat Jawa, dan ada juga yang bahasa Jawa. anggota keluarga Tan Kat Sun beberapa kali terdengar menggunakan bahasa Mandarin. 

pandangan hidup bisa dilihat dari tindakan masing-masing karakter. 
Rika contohnya, melihat agama sebagai jalan pribadi, sehingga dia santai saja akrab dengan pemeluk agama lain. 
beda lagi dengan Soleh yang melihat agama sebagai jalan Tuhan, sehingga dia memilih untuk bergabung dengan Banser NU, sampai-sampai Soleh memilih melindungi gereja dari ancaman bom, karena itu merupakan jihad di jalan Tuhan, salut..
Lihat juga Hendra yang berpikiran pragmatis, sehingga dia memilih untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya, dengan tetap berjualan saat Lebaran dan hanya meliburkan pegawai restoran sehari saja. Bapaknya Hendra, Tan Kat Sun, lebih setuju kalau karyawan restoran diliburkan lima hari, untuk menghormati hari raya agama lain.

om Hanung ceritakan supaya penonton dapat berkaca dengan kondisi Indonesia sekarang. kasus-kasus yang om Hanung ambil adalah kasus-kasus serupa yang banyak diberitakan di media. alhasil, dunia yang penonton lihat dalam Tanda Tanya terasa familiar dengan Indonesia yang sebenarnya.
om Hanung juga tidak menjadikan keberagaman karakternya sebagai landasan untuk ceramah moral semata, karena beliau menghadapkan semua karakternya dengan kebutuhan manusia yang paling dasar: bertahan hidup. Informasi pertama yang penonton dapat perihal masing-masing karakter adalah semuanya butuh uang untuk bertahan hidup. Usaha para karakter mencari uang tersebut yang penonton ikuti sepanjang perkembangan cerita. Surya di awal film diceritakan diusir dari kosnya, karena tidak mampu membayar iuran bulanan. Ia pun tinggal di aula masjid, sambil mencoba mencari pekerjaan untuk memenuhi kebutuhannya. Soleh awalnya diceritakan pengangguran, dan mencari pekerjaan ke mana-mana. 


tidak terlihat sekalipun dalam Tanda Tanya adanya momen magis, yang banyak ditemukan di film-film Indonesia, di mana karakter sadar akan pendirian moralnya yang salah, mengubah cara hidupnya, dan kemudian semua masalahnya tuntas seketika.

dalam proses mencari uang untuk bertahan hidup, di Tanda Tanya ini kita bisa belajar bahwa keberagaman bisa berdampak positif maupun negatif. 
dalam film, positif berarti saling menghidupi, seperti ketika Menuk yang membantu persiapan kebaktian di gereja, atau ketika Surya secara meyakinkan memerankan Yesus dalam drama Paskah. 
negatif berarti saling menghabisi, seperti ketika pikiran pragmatis Hendra, dengan hanya meliburkan pegawai restoran sehari saat Lebaran, menyulut kemarahan Soleh, dengan bantuan beberapa orang, Soleh menghancurkan restoran Tan Kat Sun, mengacaukan segala isinya, dan tak sengaja melukai bapaknya Hendra yang sedang sakit parah.

Tanda Tanya menyampaikan pesan yang kuat perihal toleransi. 
berdasarkan apa yang terjadi sepanjang film, toleransi adalah menerima sesama seutuhnya sebagai manusia, bukan agamanya saja, etnisnya saja, atau pandangan hidupnya saja, tapi juga menerima sesama sebagaimana manusia utuhnya, berarti kita juga menghargai hak hidup sesama. 

sumpah ni film bagus banget.
di akhir-akhir filmnya, gue sampe merinding liatnya..empat jempol buat om Hanung.
eh nggak ding, karena jari gue jempol semua, 20 jempol aja deh buat om Hanung, hehe
soalnya, film ini tidak berusaha berdiri lebih tinggi dan menceramahi penontonnya. melainkan, film tersebut berada sejajar dan menjadi cermin untuk penontonnya berkaca pada realita. :)
saluutt.......

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer